Senin, 27 Juni 2011

Bibir merayu hati bernafsu

Lihatlah kesekitarmu, berapa banyak pasangan muda-mudi yang begitu intim menjalin hubungan cinta, yang sebagian lagi dari mereka telah terseret dalam perilaku yang menabrak agama dan susila. Ya, dengan kata”Atas nama cinta,berkorbanlah untukku, berikanlah aku bukti kesucian dan ketulusan cinta, hingga urusan seksualmu…”itulah senjata”setan berwajah cinta”.
Kira-kira, begitulah bisikan-bisikan syahwat yang dikemas manis dalam aura putih cinta, yang sanggup merontokan hati yang bersih, jiwa yang suci, dan cinta yang sejati.
Sahabat muda, ketahuilah bahwa cinta yang indah dan putih itu sepatutnya dibiarkan untuk putih dan suci. Sekali saja ia dinodai oleh rayuan bibir yang ditingkahi oleh gelegar hati yang penuh nafsu, maka selesailah keindahan dan keputihan cinta itu.
Sekali engkau persembahkan harga dirimu, kesucianmu, atas nama pembuktian cinta, kesajatian cinta, maka selesailah chemistry dan misteri penuh getar maha dahsyat dalam jalinan keagungan cintamu.
“bibir merayu hati bernafsu…” waspadalah!!!!!!!!!

Tidaklah sama wanita yang mukmin dan wanita yang kafir

Sesungguhnya anda akan beroleh kebahagiaan jika anda mau mengarahkan pandangan pada fenomena yang sudah jelas, yaitu realita kehidupan wanita-wanita muslimah di negeri-negeri islam dan realita kehidupan wanita nonmuslim di negeri-negeri nonmuslim. Wanita muslim di negeri-negeri islam adalah sosok beriman, bershadaqah, berpuasa, mengerjakan shalat, berjilbab, patuh pada suaminya, takut kepada Tuhannya, menghormati tetangganya, dan sayang kepada anak-anaknya. Selamatlah buat mereka karena mereka akan beroleh pahala yang besar, ketenangan dan kepuasaan.
Berbeda halnya dengan wanita nonmuslim yang berada di negeri-negeri nonmuslim. Wanita nonmuslim adalah sosok wanita yang suka memamerkan kecantikan dan pakaiannya bagaikan barang yang tidak laku lagi murahan yang ditawarkan di sembarang tempat dan kurang akalnya lagi rendah. Ia tidak punya kehormatan, dan tidak punya agama.
Jadi bandingkanlah antara kedua fenomena dan gambaran tersebut. Niscaya anda akan merasakan bahwa anda adalah wanita yang paling bahagia, paling tinggi derajatnya, dan paling terhormat kedudukannya.alhamdulillaah….

Senin, 20 Juni 2011

kedewasaan dan jodoh

Usia muda, yaitu remaja dan pemuda, disepakati oleh para ahli jiwa sebagai masa krisis identitas. Di masa-masa ini pribadi seseorang masih labil atau bingung mencari jati dirinya. Seiring dengan perkembangan pikiran, masa ini ditandai pula dengan mulai digunakannya mekanisme pertahanan ego. Misalnya tipu muslihat untuk sekadar bergurau, membual demi menutupi rasa iri, membantah kesalahan dengan alasan rasional, dan sebagainya. Demikian juga mulai tumbuhnya rasa kepemilikan (sense of belonging) dalam berkelompok. Demi kekompakan dengan teman sebaya, mereka sanggup berbuat apa saja, bahkan mungkin hal-hal yang bertentangan dengan prinsip dan suara hati sekalipun. Tidak heran bila pada usia ini banyak yang terjebak dalam aksi ikut-ikutan.

Hal-hal di atas berpengaruh besar dalam kehidupan rohani, pengambilan keputusan, atau komitmen dengan Tuhan. Pelayanan serta kegiatan rohani lainnya adakalanya hanya dinilai sebagai cermin keadaan pancaroba dalam usia muda.
Ketika seseorang merasa dirinya dewasa maka ia akn memikirkn ttg "jodoh".
Jodoh adalah problema serius. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi. Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu / bapak? Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?

Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian masalah', namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.

Di sini orang berlomba mengajukan "standarnisasi" calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas kesalehan.

Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, "Apa salahnya?" Memang, ada juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang saleh saja." Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.

Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allah membebani seseorang sesuai kesanggupannya.". Di balik fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah.

Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada. Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

love story part2

Ada sepasang kekasih yang telah lama menjalin kisah kasih yang begitu tulus dan mereka bahagia dengan jalinan asmara mereka itu....
Tapi siapa yang tahu bahwa sang cwe menyembunyikan kekurangannya yang mengidap kanker, bukan karena takut ditinggalkan kekasihnya, namun lebih karena dia tidak mau dikasihani oleh orang lain..
Namun penyakitnya makin parah dan dokter memfonis waktunya takkan lama lagi. Sampai suatu hari sang cwe brkta " sayank, aku pngen kasi tntngan buat kamu, kalo kamu bisa berhasil aq janji aq akn mencintaimu slamanya"
cwo mnjwab" apa tantangannya?"
cwe bilang" kita bisa gag kalo kita gag ada komunikasi cuma 24 jam aja kok, gag sms, gag tlfon ap lg ktmu"
cwo pun setuju dan cwo baru menemui cwe'na keesokan harinya...tapi betapa terpukulnya hati sang cwo karena ketika dia datang kerumah si cwe trnyta cwenya telah terbaring tak bernyawa karena penyakit yang dideritanya, cwo benar-benar tak menyagka karena setahunya cwenya dlam keadaan sehat.Air matanya tak tertahan, menetes seolah mengurai kesedihannya......betapa menyesalnya dia tlah mengikuti tantangan itu.
Buat smwa yg baca cerita ne, dpatkah kalian mengerti betapa pentingnya komunikasi, selama masih ada waktu jagalah komunikasi dg orang" terkasih. jangan sampai hnya karna kurang komunikasi jadi bisa merusak hbungan bhkan kehilangan orang terkasih.........
PLEASE REMEMBER IT.....

Jumat, 17 Juni 2011

Love story

Seorang pria yg dapat menerima pasangannya dg sgala kekurangan pada diri sang wanita yg memiliki masalalu yg begitu kelam. Sang pria tak perduli dg btpa suram masalalu pasangannya itu.
Kekuatan cinta yg dlandasi dg kdewasaan pda masing" dpat menyatukan tekat dan niat dlam mencapai tjuan bersama untuk menjalin kisah kasih asmara sampai akhir hayat.
Sebaiknya qta semua dpat memahami & saling menerima kekurangan dari pasangan qta.

Senin, 13 Juni 2011

Kedewasaan

Semakin bertambahnya usia seseorang, tidak menjamin bahwa dia semakin dewasa. Karena kedewasaan seseorang tidak ditentukan oleh usia, tapi bagaimana cara dia memandang hidupnya, bagaimana dia mengasah karakternya setiap hari sehingga menjadi seseorang yang memiliki karakter yang mantap, bagaimana dia menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin, bagaimana caranya mengambil setiap keputusan yang tepat dan setiap kesempatan yang ada dalam hidupnya.

Seseorang akan bertambah dewasa ketika dia berhadapan dengan masalah hidup yang dia hadapi, orang-orang di sekitarnya yang akan mengasah karakternya, dan kegagalan yang pernah dia alami. Tiga hal tersebut adalah faktor pemicu yang utama, yang membuat seseorang bertambah dewasa.

Namun tiga faktor tersebut di atas juga belum menjamin seratus persen akan menambah kedewasaan seseorang. Semuanya kembali ke dalam pribadi masing-masing. Bagaimana cara kita menyikapinya. Menyikapi setiap masalah yang ada. Masalah yang ada dalam hidup kita tidak akan membuat kita bertambah dewasa, jika kita tidak pernah mengambil hikmat yang ada di balik setiap masalah yang ada. Begitu juga dengan orang-orang yang menyebalkan yang ada di sekitar kita. Jika kita terus menghindar dan mengambil sikap membenci mereka, kita tidak akan pernah bisa menjadi dewasa. Dan kegagalan yang pernah kita alami. Kita tidak akan bertambah dewasa jika kita terpuruk dalam kegagalan dan tidak bangkit dalam kegagalan tersebut serta berusaha mencoba lagi.